Rabu, 21 Oktober 2009

Farmakokinetik

Obat yang masuk kedalam tubuh manusia melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami absorpsi, distribusi dan pengikatan untuk sampai ditempat kerja dan menimbulkan efek. Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi obat diekskresi dari dalam tubuh, seluruh proses tersebut berjalan serentak
Didalam tubuh manusia, obat harus menembus sawar sel/membran sel di berbagai jaringan. Pada umumnya obat melewati ini dengan cara menembus,bukan melewati celah antar sel, kecuali pada celah sel kapiler ( pembuluh darah kecil ). Peristiwa ini disebut dengan trasport lintas membran, peristiwa ini merupakan proses terpenting dari farmakokinetik.
Cara transfort obat lintas membran melalui difusi pasif dan difusi aktif. Bentuk dan ukuran molekul, kelarutan dalam air, derajat ionisasi dan kelarutan dalam lemak menetukan cara transportasi obat.
ABSORPSI
Absorpsi adalah proses penyerapan obat dari tempat pemberian. Obat-obatan tidak semua yang diabsorpsi dapat mencapai sirkulasi sistemik terutama pemberiaan oral karena sebagian akan dimetabolisme oleh enzim didinding usus atau di hati pada lintasan pertama melalui organ-organ tersebut. Metabolisme ini disebut dengan metabolisme lintas pertama atau eliminasi lintas pertama. Tidak tercapainya semua obat yang diabsobsi ke sirkulasi sistemik dipengaruhi oleh berbagia faktor antaranya: Faktor obat, faktor penderita dan interaksi obat dalam absorpsi di saluran cerna.
1.Faktor obat
a.Sifat-sifat fisikokimia obat
i.stabilitas terhadap pH lambung, enzim pencernaan dan flora usus, enzim-enzim pada dinding usus dan hati. ini menentukan jumlah yang diabsobsi dan yang mencapai sitemik
ii.Kelarutan dalam air,ukuran molekul,kelarutan dalam lemak ini menentukan kecepatan absorpsi obat
b.Formulasi obat
i.Keadaan fisik obat,ukuran dan bentuk menetukan disintegrasi obat.
2.Faktor penderita
a.Kecepatan pengosongan lambung
b.pH saluran cerna
c.Waktu transit dalam saluran cerna
d.Perfusi saluran cerna
e.Kapasitas absorpsi
f.Metabolisme dalam lumen saluran cerna
3.Interaksi dalam absorpsi saluran cerna
a.Adanya makanan
b.Parubahan pH saluran cerna
c.Perubahan perfusi saluran cerna
d.Perubahan motalitas saluran cerna
eliminasi lintas pertama ini dapat di hindari atau di kurangi dengan cara pemberian parenteral,sublingual,rektal atau memberikannya bersama makanan.
PEMBERIAN OBAT ORAL
Cara ini merupakan cara yang paling umum karena mudah,aman dan murah. Namun kerugian juga banyak karena mempengaruhi obat mencapai sistemik ( bioavailabilitas obat ),dapat mengiritasi saluran cerna, tidak bisa dilakukan bila pasien koma dan perlu kerja sama dengan penderita. Kecepatan absobsi obat pemberian oral ini di pengaruhi oleh yaitu; obat mudah larut dalam lemak, kecepatan pengosongan lambung, diberikan bersama dengan makanan dan kepadatan obat.
PEMBERIAN SECARA SUNTIKAN ( parenteral )
Keuntungan pemberian secara perenteral ialah: efeknya timbul lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian peroral, dapat diberikan pada penderita yang operatif,tidak sadar atau muntah-muntah dan sangat berguna dalam keadaan darurat. Kerugianya adalah: dibutuhkan cara asepsis, menyebabkan rasa nyeri, dapat menularkan penyakit,sukar dilakukan oleh penderita dan tidak ekonomis
Pemberian IV ( intravena)
Keuntungan
1.Tidak mengalami tahap absorpsi
2.Kadar obat dalam darah diproleh dengan cepat
3.Obat segera diencerkan oleh darah.
Kerugian
1.Efek toksis segera terjadi
2.Obat tidak dapat ditarik kembali
Penyuntikan IV harus pelan-pelan sambil memperhatikan respon penderita.
Pemberian Subkutan ( SK )
Hanya boleh diberikan pada obat yang menyebabkan iritasi jaringan. Absorpsi nya biasanya lambat dan konstan sehingga efekn ya bertahan lama. Obat dalam bentuk suspensi diserap lebih lambat dari pada dalam bentuk larutan.
Pemberian intramuskuler ( IM )
Kelarutan dalam air menentukan kecepatan dan kelengkapan absorpsi, obat sukar larut dalam air akan mengendap ditempat suntikan sehingga absorpsinya berjalan lambat, tidak lengkap dan tidak teratur. Obat-obat larut minyak atau bentuk suspensi akan diabsorpsi dengan sangat lambat dan konstan
PEMBERIAN MELALUI PARU-PARU
Cara ini hanya dapat dilakukan untuk obat yang berbentuk gas atau cairan yang mudah menguap misalnya anestesi umum. Keuntungannya absorpsi terjadi sangat cepat karena permukaan absorpsinya luas dan terhindar dari eliminasi lintas pertama di hati. kerugian membutuhkan alat khusus, sukar mengatur dosis dan dapat mengiritasi sel saluran nafas.
PEMERIAN TOPIKAL
Tidak banyak obat yang dapat menembus kulit utuh. jumlah obat yang diserap tergantung pada uas permukaan kulit yang terpajan dan kelarutan obat dalam lemak.
Absorpsi jauh lebih mdah bila kulit terkelupas atau terbakar. Inflamasi atau keadaan yang meningkatkan aliran darah kulit juga akan meningkat absorpsi melalui kulit. Absorpsi dapat ditingkatkan dengan membuat suspensi obat dalam minyak dan menggosokannya ke kulit.
Pemberian topikal pada mata
absorpsi terjadi lebih cepat bila kornea mengalami infeksi atau trauma. tujuan pemberian ini untuk mendapatkan efek lokal pada kornea.
DISTRIBUSI
Setelah diabsorpsi obat akan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Distribusi obat dibedakan atas dua fase. Fase pertama terjadi segera setelah obat di absorpsi yaitu keorgan yang perfusinya sangat baik misalnya hati,jantung,ginjal dan otak. Selanjutnya fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup perfusinya yang kurang baik misalnya otot,kulit dan jaringan lemak. Distribusi ini baru tercapai keseimbangan setelah waktu yang cukup lama. Faktor yang mempengaruhi distribusi obat yaitu: aliran darah, sifat fisikokimia obat dan ikatan obat dengan protein plasma. obat yang tidak terikan dengan protein ( obat bebas ) mudah berdipusi dan mencapai keseimbangan. Derajat ikat obat dengan protein yang disebut dengan afinitas obat ditentukan oleh kadar obat dan kadar proteinya sendiri. Pengikatan obat pada gangguan gizi akan berkurang.
BIOTRANSFORMASI
Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan stuktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh. Pada proses ini obat dirubah menjadi lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Selain itu,pada umumnya obat inaktif,sehingga biotrasformasi sangat berperan mengakhiri kerja obat. Biotrasfomasi bagian besar terjadi di hati dan bagian kecil terjadi di ginjar,paru,epitel saluran cerna dan plasma. Biotrasformasi dapat tingkatkan maupun di hambat oleh obat-obat tertentu. Kerusakan pada hati dapat menghambat biotransformasi ini sehigga obat yang diberikan harus disesuaikan atau dikurangan dosisnya. Kecepatan biotrasformasi Setiap individu tidak sama karena dipengaruhi oleh faktor genetik.
Pada bayi baru lahir terutama primatur aktifitas biotransfomasi ini sangat rendah karena funsi organ belum sempuna, Sehingga kelompok umur ini sangat peka terhadap efek toksik obat tertentu.
EKSKRESI
Obat dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit larut air lebih cepat diekskresi dari pada larut lemak. Obat diekskresi sebagian besar melalui ginjal dan sebagian kecil melalui paru, kulit,usus,liur,air mata,air susu dan rambut

Tidak ada komentar: